ETIKA KOMUNIKASI DIGITAL DALAM PERSPEKTIF HADIS: ANALISIS TEMATIK HADIS KE-15 ARBA’IN AN-NAWAWIYYAH
Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah mengubah media sosial menjadi ruang publik utama, namun sering kali tidak dibarengi dengan kesadaran etis, sehingga memicu fenomena ujaran kebencian, perundungan siber, dan polarisasi. Dalam perspektif Islam, hadis ke-15 Arba’in an-Nawawiyyah yang memerintahkan untuk "berkata baik atau diam" merupakan fondasi penting etika komunikasi yang perlu dikontekstualisasikan dalam realitas digital saat ini. Penelitian kualitatif ini menggunakan jenis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan hadis tematik (maudhu‘i) dan pendekatan syarah. Analisis dilakukan dengan menelaah teks hadis primer dan penjelasan para ulama klasik, kemudian diintegrasikan secara interdisipliner dengan ilmu komunikasi. Penelitian terdahulu umumnya membahas hadis ini secara normatif-umum atau hanya sebagai legitimasi moral tanpa menggali kedalaman syarah ulama klasik maupun membangun model etika digital yang operasional untuk menjawab tantangan konkret media sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada rekonstruksi hadis "berkata baik atau diam" menjadi model etika komunikasi digital yang aplikatif melalui skema tiga tahapan: filtering, awareness, dan restraint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis ke-15 mengandung tiga dimensi etika utama: tanggung jawab moral, kontrol diri, dan orientasi kemaslahatan. Penelitian ini merumuskan model operasional di mana diam dipahami sebagai pilihan etis aktif (restraint) dan penyaringan konten (filtering) sebagai manifestasi iman di ruang siber untuk membentuk budaya komunikasi yang lebih beradab.







